6.18.2013

Pajak Dimata Seorang Pendulang Timah

Suatu siang datanglah seorang pria dengan langkah kaku dan tatapan mata yang sayu ke kantor, saya lupa nama lengkapnya, hanya saja saat saya menerimanya terlihat sekali rona kecemasan yang ia bawa sejak seharian tadi mungkin. Ternyata ia datang ke kantor dengan membawa surat himbauan yang saya kirimkan pekan lalu. Himbauan itu berisi pemberitahuan kepadanya agar segera melaporkan SPT Tahunan Orang Pribadi.

Sebisanya saya mencairkan suasana dengan menjelaskan kepadanya bahwa surat himbauan itu tidak membawa sanksi apa- apa, sebab saya kira bisa jadi hal itulah yang membuat ia terkesan seperti cemas dan takut. Lalu saya segera memintanya saat itu juga mengisi SPT Tahunan dan melaporkannya ke loket Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) di lantai dasar. Sebelum menyelesaikan semua urusan tersebut, saya sempat menanyakan kepadanya muasal penyebab keterlambatan pelaporan itu. Ia kemudian menceritakan secara runut bahkan sejak awal bagaimana ia bisa mendapatkan NPWP.

NPWP itu ia dapat setelah perusahaan tempat ia bekerja mewajibkan semua pegawainya memiliki NPWP, padahal saat itu ia hanya bekerja sebagai tenaga buruh harian lepas. Ia bekerja untuk perusahaan penambangan Timah dengan sistem upah mingguan. Namun demikian, saat ini sedang tidak memiliki pekerjaan lagi. Ketidakmengertiannya soal pajak menyebabkan ia tidak terpikir untuk mengajukan permohonan Non Efektif sementara waktu. Setelah ia mengisi SPT Tahunan yang semua ia buat NIHIL itu, ia sempat menceritakan kebingungan dan kecemasannya sejak dari hari pertama menerima surat himbauan tersebut, terlebih ia berasal dari wilayah yang jauh dari kantor ini.

Saya membayangkan kecemasan yang ia alami tentu berkelindan seputar biaya denda yang harus ia bayar atau malah sanksi pidana. Kelegaan nya mendapati bahwa surat himbauan itu tidak membawa sanksi apa- apa membuat saya merasa senang. Saya sempatkan juga memberitahukan kepadanya agar untuk sementara mengajukan permohonan sebagai Wajib Pajak Non Efektif, karena saya pikir dengan kondisi yang ia ceritakan tentu penghasilannya masih dibawah batas Penghasilan Tidak Kena Pajak. Usai itu, saya antar wajib pajak itu ke loket TPT untuk mengambil antrian supaya ia tidak lagi kebingungan dan tuntas semua urusannya.

Bapak itu adalah seorang pendulang timah, dimatanya pajak adalah sesuatu hal yang jauh dan tinggi sekali. NPWP pun ia tidak tahu, namun menarik mencermati bagaimana pajak dimatanya adalah hal yang tidak membumi bahkan menakutkan dan meski begitu apresiasi tinggi layak ditujukan kepadanya karena meski dengan gambaran seperti itu ia tetap mau tampil berani memenuhi kewajibannya. Ia adalah orang yang berani dimata saya bukan karena ia tidak punya rasa takut namun justru karena ia berani hadir melawan rasa takutnya.

Cerita soal seorang dirinya tadi adalah cerita yang jauh dari sorot media dan puja puji khalayak. Sementara kita tentu sudah terbiasa melihat banyak masyarakat yang secara kasat mata hidup sejahtera namun menghindari kewajiban pajak bahkan untuk sekadar memiliki NPWP dan melaporkan SPT Tahunan sekalipun. Tidak perlu kita cari tahu jawaban atas realita ini tetapi mungkin kita perlu belajar kembali soal keberanian dan kesadaran kepada Bapak itu tadi yang bekerja hanya sebagai seorang pendulang timah.

Read more »

6.17.2013

Size Does Not Matter. The Effort Does.

Saya hampir genap satu bulan menjadi Account Representative (AR) di Ditjen Pajak. Namun setidaknya saya sudah cukup terbiasa melihat apa dan bagaimana pekerjaan AR itu, salah satunya adalah membuat surat himbauan. Maklum sebelumnya saya bertugas sebagai pelaksana pendukung bagi para AR sehari- hari dikantor.

Di minggu pertama bertugas menjadi AR, saya belajar membuat himbauan. Sumber data yang saya gunakan adalah hasil analisa penyandingan omset lewat perhitungan terbalik antara Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Suatu hari sambil menganalisa data saya menemukan data setoran PPN yang tidak sebanding dengan omset Pajak Penghasilan yang dilaporkan di SPT Tahunan wajib pajak yang bersangkutan. Dengan jumlah setoran PPN sebesar Rp. 5.826.000,00 itu artinya omset yang telah dipungut PPN sebesar 10X PPN sebanding dengan Rp. 58.260.000,00 Sementara pelaporan di SPT Tahunan menyebutkan bahwa omsetnya mencapai Rp. 100.765.000,00 sehingga memunculkan selisih yang patut dipertanyakan dengan rincian sebagai berikut:

Penyerahan Total................................ Rp. 100.765.000
Penyerahan Sudah Dipungut dan Belum Dilapor..... Rp. 58.260.000
Penyerahan Belum Dipungut dan Belum Dilapor..... Rp.42.505.000
Dasar Pengenaan Pajak.......... ................ Rp.42.505.000
Pajak Pertambahan Nilai (PPN). ................. Rp. 4.250.500

Surat himbauan kemudian saya buat lalu disetujui Kepala Seksi dan Kepala Kantor. Intinya dalam surat itu, saya minta kepada wajib pajak agar memberi tanggapan paling lama 21 hari kerja sejak surat diterima. Sebetulnya saat itu, saya sempat berpikir dua kali, apa saya yakin temuan ini saya tindak lanjuti? apalagi data tersebut sudah 2 tahun yang lewat dengan jumlah yang tidak terlalu besar, sementara diluar sana masih banyak oknum wajib pajak yang mengemplang pajak puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Dan yang lebih berat lagi adalah bahwa kemungkinan kelalaian ini terjadi karena ketidaktahuan si wajib pajak.

Namun, kewajiban adalah kewajiban. Setiap rupiah potensi penerimaan negara tidak boleh menguap begitu saja, jadilah kemudian surat himbauan itu dikirimkan ke alamat wajib pajak. Selang beberapa hari kemudian, benar saja, seorang perwakilan wajib pajak datang menemui saya ke kantor. Saat itu saya sudah siap beradu argumentasi bila saja wajib pajak mempertanyakan dasar himbauan yang saya buat dan saya juga sudah siap menerima penjelasan apabila wajib pajak mampu memberikan bukti bahwa semua kewajiban sudah ditunaikan, karena bisa jadi kekeliruan berasal dari data internal kantor.

Di menit- menit kemudian terungkap bahwa benar ada PPN yang belum ia setorkan atas penjualan yang ia lakukan. Mirisnya, ia sama sekali tidak menyadari keteledoran tersebut bahkan sama sekali tidak mengetahui bahwa telah terjadi transaksi penjualan sepanjang tahun 2011. Setelah bercerita lebih jauh akhirnya diketahui bahwa saat itu perusahaan yang ia pimpin sebenarnya sedang dalam status ‘dipinjam’ secara kekeluargaan oleh rekannya. Rekan peminjam itulah yang melakukan penjualan atas nama perusahaan miliknya, entah tidak mengetahui kewajiban untuk menyetorkan PPN atau dengan niat sengaja, rekan tersebut sama sekali tidak memberitahukan ke pemilik perusahan.

Lebih jauh lagi, yang terjadi justru rekan tersebut terkesan hendak ‘cuci tangan’ dan enggan menyetorkan uang negara yang telah ia pakai. Usai wajib pajak tersebut menjelaskan semuanya, giliran saya memberi tanggapan. Saat itu saya bagai berdiri di antara empati kepadanya dan sikap profesional sebagai seorang AR. Peraturan tetaplah peraturan, negara sama sekali tidak mengetahui bahwa dilapangan terjadi praktik pinjam- meminjam seperti itu. Dan atas transaksi apapun yang dilakukan, maka negara akan merujuk ke pemilik perusahaan yang tercatat secara resmi/ diakui negara. Begitulah kurang lebih pernyataan yang saya berikan kepadanya sembari menegaskan bahwa kewajiban tersebut harus segera dipenuhi.

Akhirnya wajib pajak tersebut menyadari bahwa kelalaian yang ia lakukan membuahkan tanggung jawab yang harus segera dilunasi dan memberi pelajaran berharga soal kepercayaan dan profesionalisme. Dan saya sendiri memetik pelajaran bahwa jangan memandang sebelah mata potensi penerimaan negara yang dapat menguap yang mungkin terjadi karena ketidakmengertian wajib pajak, sebab bisa jadi disitulah ladang untuk melakukan sosialisasi langsung dan memberikan bimbingan edukatif kepada wajib pajak.

Ebas
Pangkal Pinang, Juni 2013

Read more »

5.31.2013

Good Bye Mei


Mei segera usai, Juni akan menjelang. Mei tahun ini diwarnai dengan kejutan yang sangat berkesan. Terima kasih Tuhan untuk garis nasib yang engkau tetapkan dan ilham ikhtiar yang Engkau turunkan.

Mei 2013. Tidak akan terlupakan. Pengangkatan menjadi Account Representative, Pernikahan dan Bulan Madu ke Pulau Bangka. Bulan yang sarat dengan perjalanan, manisnya cerita dan cinta, pelajaran serta peralihan fase kehidupan.

Perubahan status dari Bujang menjadi Suami adalah sebuah nikmat besar yang tiada bisa diukur dalam satu dua puluh kalimat. Bagaimana kemudian saat terbangun dari tidur mendapati seorang wanita ada disisi atau ketika pulang selepas kerja adalah momen yang begitu membahagiakan karena wanita yang disayangi sudah menanti. Bekerja sebagai seorang Account Representative juga membawa perubahan cara pandang dan cara pikir dari yang semula keseharian dijibaku dengan pekerjaan back office dan klerikal kini diamanahi tugas yang menuntut daya analisis dan kepiawaian manajemen waktu. Buatku, dengan peran baru sebagai Account Representative ini tugasku adalah menjalaninya seoptimal mungkin, amanah ini datang dari Tuhan, tugasku hanya fokus pada optimalisasi proses, urusan hasil kukembalikan kepada Tuhan selaku pemberi amanah.

Hidup masih akan terus berjalan. Semoga kebaikan yang sudah aku coba berusaha jalani akan dapat terus terjaga nada dan iramanya dengan kian harmonis lagi, karena hidup ini indah dan harapan ku, semoga masa yang akan datang akan kian penuh berkah

Ebas
Akhir Mei 2013

Read more »

5.23.2013

Bulan Madu di Pantai Matras

Momen bahagia memang perlu dibuat, sebab ia akan jadi pengingat romantisme, kehangatan dan cerita manis disaat mungkin nanti konflik pelik atau realita getir dipaparkan dalam alur skenario kehidupan. Saya melihat pengalaman orang- orang terdahulu yang mengajarkan bahwa sehebat-hebatnya tekanan masalah kehidupan berumah tangga, bila sepasang suami istri telah menyatu dalam momen bahagia pengikat emosi dan memori, mereka akan dapat saling menguatkan untuk sabar dan melewatinya.

Seperti saat kemarin, saya dan istri berbulan madu ke Pantai Matras, Sungai Liat, Pulau Bangka. Meski begitu, ini bukan catatan untuk unjuk kebahagiaan, karena saya sadar bahwa semua itu datangnya dari Tuhan, tujuan segala puja dan muara semua puji. Ya itu tadi, murni catatan ini adalah untuk mengikat kenangan atau sekadar menawan manisnya cinta.

Berjalan menyusuri tepi Pantai Matras, kaki kami berdua sesekali disapu riak kecil ombak. Sambil menggandeng tangan istri, rasanya belum pernah saya selapang atau ssutuh itu. Menjadi lelaki beristri benar- benar telah membuat jiwa saya utuh tak lagi separuh. Sesaat saat kami duduk beristirahat dan melempar pandangan ke lautan lepas, miliaran butir pasir pantai ini diam- diam telah mengintip momen bahagia saya dan istri sedari tadi. Begitu bahagia, sampai saya kehabisan kata- kata untuk mengungkapkanya. Buat saya saat itu, kini dan nanti, menikahinya adalah salah satu anugerah terindah dan terhebat yang pernah saya dapat.

Usai itu, ternyata momen bahagia lainnya mewujud lebih banyak berupa hal sederhana dalam keseharian saya dan istri di rumah kontrakan sederhana kami. Bahwa bahagia itu sederhana ternyata memang benar adanya. Tidak terbayang bahwa sekadar makan bersama dengan lauk sederhana atau membersihkan rumah berdua saja sudah mampu mengundang sensasi bahagia yang saya dan istri rasakan. Apalagi bila saat- saat bed talk tiba. Oleh karena itu, sekali lagi, ini benar- benar salah satu anugerah terindah dan terhebat.

Saya dan istri sudah meneguhan komitmen mengarungi kehidupan berumah tangga lewat ijab qabul antara saya dan orang tuanya selaku wali nikah. Kedepan, riak kehidupan tentu saja bisa datang menyentuh kehidupan kami persis seperti halnya riak ombak di bibir Pantai Matras yang membasahi kaki- kami saat kemarin kami berjalan menyusurinya. Dan saat hal itu tiba, semoga momen bahagia yang telah dan sedang kami buat semoga bisa jadi salah satu penguat.

Ebas
Selepas Subuh

Read more »

5.18.2013

Ci(n)ta di Bulan Mei

Takdir hidup Tuhan yang tentukan. Rencana hidup kita yang susun. Kadang keduanya harmonis, namun bisa juga berbenturan. Alhamdulillah aku sudah menikah. Rencana yang sudah lama aku buat dan laksanakan, akhirnya terwujud pekan lalu pada tanggal 12 Mei 2013. Sah, aku menjadi suami wanita yang kusayangi. Lisnaini.

Hitungan bulan demi bulan masa persiapan itu bukanlah masa yang lurus tanpa gejolak. Ada benturan keadaan yang kedatanganya tak diharapkan. Sekarang mengingat masa- masa itu yang terpikir cuma kebenaran bahwa sabar dan sikap persisten selalu membawa hikmah. Menjalaninya memang berat, tapi apa mau dikata kalau memang ceritanya harus begitu.

Hidup terus berlanjut, kini aku dan istri melanjutkan cerita kehidupan kami di Kota Pangkal Pinang Provinsi Bangka Belitung seiring dengan tuntutan tugas yang mengamanahiku dengan jabatan yang baru di kota ini. Tidak kukira akan bertepatan sekali momennya. Baiklah mungkin ini bisa jadi kesempatan untuk berbulan madu di pantai pulau Bangka yang terkenal indah.

Saat tulisan ini aku buat, aku tengah duduk bersama istri di ruang tunggu Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang bersama Mertua dan dua saudara Ipar, menunggu pesawat yang akan membawa kami terbang 40 menit menuju Bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Mei tahun ini telah penuh cerita cita dan cinta. Alhamdulillah aku sudah menikah dan satu cita sudah tersampaikan.

Hari esok cuma Tuhan tang tahu. Tapi rencana hidup tetap harus disusun bukan?

Palembang
18 Mei 2013

Read more »

5.01.2013

Sengkarut Calo(n) Legislatif

Seorang lelaki tergopoh- gopoh menuju meja pendaftaran NPWP di sebuah Kantor Pelayanan Pajak, saat tengah diproses, lelaki tersebut meminta penyelesaiannya diutamakan karena sedang sangat dibutuhkan sebagai syarat kelengkapan tambahan berkas calon legislatif. Ternyata lelaki tersebut adalah calo yang diminta seorang calon legislatif mengurus NPWP miliknya.

Ilustrasi diatas adalah satu dari (mungkin) banyak silang sengkarut praktik demokrasi negeri ini. Seorang anggota dewan seyogyanya adalah mereka yang punya kesadaran tentang makna kehidupan bernegara, bukan seorang politisi karbitan yang muncul secara musiman. Ketiadaan NPWP bagi seorang calon legislatif, di sebuah negara dengan ongkos demokrasi yang mahal, adalah sinyal yang menggambarkan kualitas sang calon, penulis kira tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa sang calon miskin pemahamanya tentang perpajakan. Padahal, wawasan yang luas sangat penting agar bisa memnyelesaikan persoalan bangsa ini, sehingga akan lucu bila seorang legislatif 'belajar' menjalankan tugas sambil bekerja. Nasib rakyat jadi taruhan.

Sulit berharap lebih pada legislatif periode mendatang jika panggung agung itu diisi oleh pribadi pragmatis yang memandang posisi itu sebagai profesi pendulang rupiah dan etalase popularitas. Apalagi banyak parpol yang nyata gagal membangun kaderisasi sehingga 'menjual' bakal calon dengan label petahana, artis, dinasti dan kaum kaya. Pemahaman soal polemik bangsa tidak bisa muncul secara instan dari kaum pesohor yang secara mendadak hadir lewat sokongan popularitas, uang dan kekerabatan. Tiga hal itu, walau menjanjikan banyak hal, tetap tidak cukup, dan bila dipaksakan tentu dapat menghancurkan banyak hal.

Mereka, calon legislatif yang kini tengah bersiap mengadu nasib, tak lebih tak kurang ibarat calo yang berebut penumpang disebuah terminal kedatangan, mereka menandai teritori, menjual janji, untuk kemudian beradu sikut dalam silang sengkarut perebutan penumpang yang kebingungan. Dan bila kita amini praktik ini, malang sudah kita hidup sebagai masyarakat yang bingung sepanjang zaman.

Read more »

4.20.2013

Catatan Penjaga Loket

Derik mesin printer dotmatrix..
Denting bel antrian..
Menghadapi banyak wajah setiap hari..

Itulah rutinitas ku sejak seminggu lalu. Setiap hari dari Senin ke Jumat, di loket nomor satu (ada empat loket) aku ditugasi sebagai penerima laporan dan surat dari para wajib pajak (WP). Ini tempat yang baru dengan tantangan dan pelajaran yang juga baru. Bermula dari pukul 08.00 pagi, saat wajib pajak mulai datang melaporkan SPT Masa atau surat lain, aku harus sudah siap dengan ramah dan penampilan rapi menerimanya hingga petang hari sekitar pukul 16.00 WIB.

Volume pelaporan itu terbilang tinggi, dengan rata- rata lebih dari 250 antrian yang dilayani (tiap pelapor bisa membawa lebih dari 5 laporan), apalagi kalau sudah tanggal batas akhir pelaporan. Bagian terberat dari itu semua adalah bahwa disaat yang sama aku tidak boleh kalah dari rasa lelah dan amarah. Karena memang tingkat beban kerja yang tinggi bisa makin pelik saat ada pelapor yang enggan menaati aturan, tidak mau menerima penjelasan dan memaksa untuk diterima. Ditambah tugas membuat register yang menuntut ketelitian dan kecermatan, maka posisiku rentan membuatku masuk jebakan self-induced misery syndrom.

"Tuhan, beri hamba kekuatan untuk mengemban amanah ini". Doa itu jadi penolong dan penguat. Bahwa hidup tak akan selalu semudah yang dibayangkan, selalu ada pelajaran dalam renungan di tiap doa. Mungkin ini cara Tuhan menjawab doaku menjadi manusia yang berguna. Karena memang, tak bisa dipungkiri bahwa aku senang bila bisa membuat wajib pajak senyum, terutama mereka yang jauh datang untuk menyampaikan bukti setor atas penghasilan mereka dari usaha kecil- kecilan penopang hidup. Tapi semua kesenangan itu harus berhadapan dengan kesabaranku yang rapuh bila bertemu wajib pajak arogan dengan sentimen negatif tentang pajak. Harga diriku gampang sekali terusik cuma melihat mimik sinis dan mendengar ujaran bernada miring mereka. Tapi pekerjaan ini tetap harus dijalankan.

Namun akhirnya terpikir olehku. Mengapa aku harus merasa insecure saat bertemu tipikal wajib pajak seperti ini? Harga diriku jauh lebih besar dari tudingan tak berdasar mereka. Emosiku terlalu berharga bila kukerahkan untuk membalas sikap mereka yang seperti memancing. Kursi loket ini tak boleh jadi saksi drama tak penting karena emosi yang lepas kendali. Kesabaran adalah harga yang harus aku bayar agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Hidup cuman sekali maka aku harus berarti. Dan bila saatnya tiba aku ditanya Tuhan, aku cuma ingin menjawab bahwa aku sudah semampuku menjalankan amanah dariNYA dengan baik.

Palembang
20 April 2013 13.50 WIB.

Read more »

4.15.2013

Cerita Ratusan Kilometer

Motor ini memang sekadar benda tanpa nyawa yang aku beli dari teman kuliah pada akhir tahun 2010 seharga Rp. 10.000.000,-. Warnanya biru dengan bodi ramping yang sengaja kusetel lebih tinggi dari aslinya, supaya lebih lincah kalau dibawa ngebut. Tiap kali ganti spare part aku selalu beli produk resmi, walau lebih mahal tapi jaminan daya tahan itu lebih penting dan sejauh ini sudah lumayan banyak suku cadangnya yang aku ganti karena memang sudah susut manfaatnya. Mulai dari gear pack, stang bar, jok, shock, canvass kopling,  accu, sampai tool konektor mesin ke bahan bakarnya.

Tentunya dengan kubawa ke mekanik langganan di bengkel resmi. Sebab memang aku lemah di mekanika, lebih tepatnya tidak begitu tertarik. Padahal, mulai dari urusan sehari- hari sampai ke urusan pekerjaan, aku tidak bisa lepas dari motor ini. Tapi ya sudahlah, mungkin ini jalan Tuhan menciptakan orang- orang sepertiku agar para mekanik mendapatkan rejeki. Meski kekasihku sering protes soal ini, baginya paling tidak aku bisa seharusnya membetulkan sendiri tiap kali ada kerusakan. Bisa sih bisa, cuma ya untuk sebatas perawatan phsycal looking saja.

Dengan perawatan yang terbilang rutin itu, rasanya nikmat sekali melaju membelah jalanan bersama motor ini. Apalagi oli/ pelumas nya paling tidak 2-3 bulan sekali aku ganti. Ratusan kilometer aku kira sudah aku jajal bersama motor ini. Mulai dari Jakarta- Puncak (Jawa Barat) dan Jakarta- Banten- Lampung- Baturaja- Palembang. Perjalanan jauh itu tentunya pula dibarengi dengan cerita aksidental yang memberi pelajaran. Seperti misalnya saat tergelincir karena kondisi becek di ruas jalan Cibinong- Bekasi sampai membuat right brake bar motor ini melengkung bak kumis Si Jampang. Atau ketika lubang besar menganga di daerah Lubuk Batang perbatasan Ogan Komering Ulu sampai membuat ku oleng sesaat. Dan satu lagi, saat menyeberangi Selat Sunda motor ini aku parkir di lambung kapal lalu ombak tinggi membuat semua motor yang terparkir didalamnya roboh, tak terkecuali motor ini. Speedometer dan lampu depannya retak dan baret.

Cerita masih berlanjut. Kini semasa bertugas di Palembang, pekerjaan sebagai surveyor lapangan mengharuskanku keliling Palembang. Motor ini pun jadi berjasa banyak, dengannya aku bisa menyelip lincah diantara kemacetan lalu lintas atau menembus jalan tikus untuk memotong waktu tempuh. Sangat wajar bila pengeluaran rutin ku kemudian adalah untuk pos bensin dan perawatan periodik motor ini. Aku bersyukur sekali karena untuk hal ini, kekasihku, yang aku kunikahi bulan depan bisa mengerti. Karena memang motor ini jadi alat buatku untuk menjemput rezeki dari Tuhan.

Secara fisik dan performa motor ini masih bisa diandalkan. Tugasku merawatnya dan membawanya ke bengkel kalau rusak atau untuk perawatan rutin. Karena bagaimanapun juga, motor ini adalah rezeki. Kalau tidak dijaga nanti susah, segala urusan jadi lambat. Dan karena motor ini juga nanti aku bisa punya cerita untuk anak/ cucu bahwa pernah aku tempuh perjalanan jauh yang menyenangkan dan motor ini adalah saksi bisuku saat jalan berdua bersama ibu/ nenek mereka. Ya, begitulah. Memang meski cuma benda tanpa nyawa, tetapi cerita sudah banyak dilalui bersamanya, kini dan mungkin juga nanti.

Read more »

4.06.2013

Dear Mama.

Dear Mama.

Hari ini anakmu ini sudah melamar kekasihnya. Ya hari ini, 05 April 2013. Lumayan banyak tetamu dan sanak famili kita yang ikut mengiringi saat- saat menuju prosesi tadi siang. Mungkin ada sekitar 30 orang. Acaranya khidmat tapi degup jantung putramu ini kencang, lantaran tak putus doa demi kelancaran acara, apalagi ada rengek cengeng tiga bocah (Lili, Alvin dan Syifa) yang membuat geram. Tapi ya, namanya juga bocah.

Hari ini anakmu sudah setapak lebih dekat dengan arti hidup, Ma. Soalnya begini beberapa tahun lalu Papa pernah bilang bahwa hidup lelaki yang sebenarnya itu dimulai saat ia jadi seorang suami. Berat Ma, tapi mau bagaimana lagi. Kalau tidak begini hidup akan seperti ini saja, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan ananda kira tragedi seorang lelaki adalah saat ia tidak punya keberanian dan tanggung jawab. Mama tentu setuju sekali bukan? Anakmu ini ingat betul akan kegandrunganmu pada sikap tanggung jawab.

Hari ini anakmu sadar bahwa rentetan perhatian yang dulu kerap ia terima darimu saat masih kanak- kanak akan kembali lagi. Mama dulu rajin sekali memastikan agar baju ku rapi jadi kalau ditanya orang 'anak siapa?' bisa ananda sebut nama Papa seperti yang Mama nasihatkan. Tapi tentu saja kini perhatian itu kan berbeda muasal dan cara tapi sama tujuan dan bentuknya. Ah, anakmu ini memang berantakan, menyusun baju dalam lemari pun tak rapi. Hal yang sering dulu membuat Mama marah dan mungkin membatin lelah.

Bulan depan Ma, insyaALLAH tanggal 12 Mei acaranya di Gedung Masjid Agung Baturaja. Akad dan resepsi di hari yang sama. Entah dari sana Mama bisa lihat atau tidak, ananda tidak tahu. Namun, ananda kira bila Mama masih ada di dunia tentu Mama bahagia melihat ananda yang 13 tahun lalu masih bocah kini sudah berani melamar anak gadis orang dan kan menikahinya. Semoga langkah anakmu ini adalah jalan menantang tragedi menuju mulia, dan demi apapun, tak kan terputus doa untukmu Mama.

Baturaja.
April 2013.

Read more »

3.30.2013

Idealita Kontra Realita

Sudah sebulan lebih aku pindah seksi. Kali ini di tempat yang sangat sibuk, itu sebabnya banyak yang enggan masuk seksi ini. Seksi Pelayanan namanya. Aku sendiri bersikap biasa saja, antara sungkan menunjukkan keengganan atau kecenderungan mengikuti jalan hidup. Tapi sejujurnya aku melihat ini sebagai tanggung jawab atau amanah. Itu sebab mengapa aku bisa melihat kehadiran semangat dari dalam diri sebagai wujud idealita.

Sayangnya, di seksi yang baru ini aku lebih banyak tersadar bahwa idealita berbenturan dengan realita.

Pada minggu pertama aku ditempatkan di loket terdepan sebagai petugas penerima laporan dan atau permohonan. Hal yang menyenangkan menjumpai banyak wajah. Tapi di saat yang sama justru menjadi hal yang menjengkelkan bilamana bertemu dengan pribadi yang suka menentang aturan, meremehkan petugas dan mau nya tahu beres tanpa mau diberi arahan. Dan saat itu, sekitar pukul 11.00 WIB hari Kamis tanggal 25 Februari 2013. Aku mendapati rekan sebelah meja berhadapan dengan pelapor yang enggan ikuti aturan, sang pelapor/ pemohon membentak rekan tadi yang kemudian berinisiatif meminta arahan atasan.

Saat itulah aku coba memberitahukan dengan santun pada sang pelapor ihwal tata aturan yang sebenarnya, sedikit banyak ia seperti bersedia. Dan segera aku susul rekan tadi untuk sudahi saja inisiatifnya sebab pelapor/ pemohon sudah melunak secara sikap walau dengan intonasi yang tetap tinggi. Tapi rekan tadi meminta pihak pelapor menghadap ke ruangan atasan, dan tak lama entah apa bentuk diskusi antara mereka akhirnya permohonan itu diterima. Atasan kami keluar mendekati kami para petugas front office dan si pelapor kembali ke bangku tempat mereka semula.

Saat rekan ku diminta memproses permohonan tak lengkap itu, ia dengan sungkan menolak. Dan memilih mengalihkan instruksi berisiko itu ke yang lain saja. Sial, tak lain tak bukan di sebelahnya adalah aku. Berat untuk menuruti permintaan atasan, karena memang salah. Apa lagi aku baru saja menjelaskan dengan pada pemohon ihwal tata aturan yang ada. Mau dikemanakan mukaku? Mengapa jadi aku yang tanggung risiko? Reflek, akhirnya saat instruksi ditujukan padaku, dengan tegas aku menolak. Penolakan yang diartikan sebagai pembangkangan pada atasan. Tapi buatku itu lebih baik daripada hidup tanpa prinsip.

Dan drama tak patut itu terjadi. Didepan banyak orang aku bersikeras mempertahankan sikap, atasanku murka karena mungkin ketegasan dan integritasku merobek wibawanya. Bertambah pelik saat pemohon tadi justru ikut memaki dengan umpatan yang tak pantas diingat dan dengan sikap yang merendahkan martabat. Naluriku meruyak ke permukaan, aku membalas sikap intimidatif mereka dengan tak kalah bernyali. Nyaris sebuah kotak saran lemparan mereka menyasar mukaku. Dan tak lama kemudian, seorang rekan menarikku keluar 'arena' untuk meredam suasana.

Bagaimana cerita selanjutnya aku tak tahu, tapi sejak saat itu aku dipindah ke backoffice. Itu tak masalah bagiku. Dari pengalaman itu aku belajar bahwa keteguhan memegang prinsip bisa saja diuji oleh realita tak kondusif yang muncul dari orang yang harusnya menyokong. Entah itu rekan yang suka mengalihkan risiko, atasan yang kompromistis atau pihak ketiga yang sulit mengerti. Tapi itulah harga mahal yang harus dibayar atas keteguhan memegang prinsip. Namun sandaranku cukup lah pendirian bahwa pekerjaan yang kulakoni adalah untuk keluarga. Aku tak mau tanganku kupakai untuk mencuci tangan kotor orang lain.

Mungkin ini namanya lain padang lain belalang. Di seksi yang baru ini sibuknya bagai pabrik, tapi ini memang jalan cerita yang harus dilewati. Sudah dirancang ALLAH. SWT begini. Satu pemikiran yang membuatku melihatnya sebagai amanah. Dan disaat yang sama inilah wahana baru yang bisa membuatku lebih berani bersikap dan berkembang. Supaya aku jadi belalang yang tidak sekadar hidup di padang ilalang lalu mati terbuang. Dan agar ada legasi yang dapat aku beri meski di tempat ini idealita bisa kapan saja berbenturan keras dengan realita.

Read more »

3.17.2013

Sekip dan Mozaik Satu Dekade.

Tahun 2003 akhir saat itu. Aku dengan enam teman sekolah jauh- jauh dari Baturaja datang ke Palembang untuk ikut tes uji coba STAN. Kami menginap di penginapan sederhana milik pemerintah di daerah Sekip. Itulah kali pertama aku tahu wilayah ini. Karena memang meski besar di Baturaja, aku cukup jarang mengelilingi Palembang.

Kini, 10 tahun sudah berlalu sejak masa 2003 itu, setelah berputar dalam banyak liku perjalanan, jarak dan pengalaman. Tidak kukira ternyata aku akan menjadi kian akrab dengan daerah ini, tiap kali kekasihku datang ke Palembang, ia menginap di Sekip. Karena disitu ia sempat tinggal lama dengan keluarganya semasa menyelesaikan kuliah 6 tahun lamanya. Sehingga aku jadi makin sering ke daerah ini. Terlebih di saat- saat seperti ini menjelang pernikahan kami, komunikasi dan segala persiapan harus lebih intens dan mantap.

Setidaknya untuk beberapa waktu kedepan, aku kira, aku memang akan berjodoh dengan daerah ini. Kami memilih untuk mengontrak rumah sebagai tempat tinggal untuk memulai hidup baru kami nanti di wilayah ini pula. Tadinya sempat kami mencari di daerah lain tapi dengan banyak pertimbangan dan kemantapan hati, ke Sekip juga jadi pilihan kami. Meski kami tahu wilayah ini rentan banjir karena dikepung kali.

Hidup kadang beginilah memang. Hal sederhana yang aku kira sepele tak bermakna ternyata adalah kepingan mozaik dari lukisan hidupku kini. Semua terhubung sejak dulu tanpa sadar sampai akhirnya didetik ini setidaknya memang benar bahwa tiada hal yang kebetulan, semua sudah dirancang Tuhan. Termasuklah tentang aku, kau dan wilayah Sekip ini.

Read more »

3.16.2013

USM STAN: TPA, Bahasa Inggris dan Pernak- Perniknya

Menarik saat mengingat bahwa sejak 2003 aku mulai biasa mengerjakan soal- soal seputar tes potensi akademik atau TPA biasa disingkat orang. Bagiku, memecahkan kerumitan di soal sejenis ini sama menariknya dengan memecahkan soal Trigonometri, Logaritma atau Fisika Dinamika Gerak Lurus. Aku mulai akrab dengan tipikal soal TPA karena saat itu aku mulai terpikir untuk melanjutkan sekolah di STAN. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Waktu itu aku kelas 3 SMA.

Rentetan Pengalaman dengan TPA.

Seingatku sudah sekitar 8 kali aku ikut tes TPA, yang pertama waktu Try Out STAN di tahun 2003 dan hasilnya aku ada di peringkat 60-an dari sekitar 100 peserta lalu di tahun 2004 dan berhasil menjadi peringkat 1 dari 350an lebih peserta, dan ditahun yang sama aku ikut Try Out di Palembang tapi hasilnya tidak diketahui. Kemudian aku juga ikut Try Out yang diadakan sebuah lembaga Bimbingan Belajar dengan peringkat 1 dari 5 peserta saja, karena memang pesertanya sedikit.

Sekitar Juni 2004 aku ikut USM STAN dan lulus untuk Prodip I. Kemudian dalam rangka persiapan lanjut sekolah ke STAN kembali untuk program DIII, dan aku ikut tes di tahun 2008 tapi belum berhasil sehingga untuk persiapan yang lebih baik di tahun depan aku ikut Try Out di kota Depok tahun 2009. Hasilnya peringkat 1 dari sekian ratus peserta. Dan terakhir di tahun 2009 untuk kali kedua akhirnya Alhamdulillah aku lulus dan bisa kembali kuliah di STAN. Rencananya tahun depan aku akan ikut tes kembali untuk bisa kuliah di program DIV STAN.

Sederet pengalaman diatas menunjukkan bahwa kecakapan dibangun lewat ketekunan dan keberhasilan dibangun lewat kegigihan tekad serta doa untuk bisa terus bertahan dan maju.

TPA, Bukan Soal Biasa.

Tipe soal TPA menuntut penyelesaian dengan nalar yang baik karena pemecahanya bukan lewat rumus baku seperti pada ilmu Eksakta. Biasanya satu soal TPA mengandung informasi sebagai petunjuk solusi, namun petunjuk itu menyebar, seolah tidak saling terhubung dan tidak lengkap. Sehingga dalam menyelesaikannya kita harus mampu menghubungkan 'clue' yang ada agar terlihat keterkaitanya. Disaat yang sama itulah baru ketahuan titik kosong yang hendak kita cari tahu sebagai jawaban. Jadi, jangan harap soal TPA akan dengan gamblang memberi petunjuk yang mudah dalam menjawab.

Contoh: Setiap Minggu Agus mendapat uang saku dari orangtuanya. 1/3 dari uang sakunya ia gunakan untuk ongkos dan 2/5 dari sisanya ia belikan jajanan. Setelah digunakan untuk ongkos dan jajan, ia masih memiliki sisa Rp. 24.600,- untuk ditabungkan. Berapakah jumlah uang saku yang diterimanya dalam satu bulan?

Jawab: Petunjuk 1: Uang saku diberikan secara Mingguan. Sebesar Rp. X,-Petunjuk 2: 1/3 untuk ongkos, 2/5 dari sisanya untuk jajan. Petunjuk 3: Setelah jajan dan ongkos masih sisa Rp. 24.600,-Petunjuk 4: Soal meminta jumlah uang saku dalam satu bulan.

Langkah 1: Cari besar nilai uang saku dalam seminggu. Yakni cari nilai X. 1/3x --> untuk ongkos, sisanya 2/3x. 2/5 dari sisa dipakai untuk jajan, atau sebesar 2/5. 2/3x= 4/15x Sehingga: 1/3x + 4/15x + Rp. 24.600,- = x x= Rp. 61.500,-

Langkah 2: Kalikan nilai x dengan 4 untuk nilai uang saku bulanan. Sehingga didapat nilai Rp. 246.000,-

TPA pada Seleksi STAN

Diatas hanya salah satu contoh soal tingkat mudah dalam TPA, karena memang ada beberapa soal yang tingkat kerumitanya tinggi. Untuk STAN, seleksi TPA itu sendiri dibagi menjadi 7 jenis. Yaitu sebagai berikut;

#1. Tes kosa kata yang meliputi sinonim, antonim, dan klasifikasi kata. Akan tetapi, tipikal soal ini menyoal kosa kata yang tidak lazim dipakai sehari- hari, sehingga peserta harus terbiasa dengan kosa kata asing yang merupakan istilah yang kerap dipakai dalam media dan konteks tertentu. Aku pribadi membiasakan diri dengan banyak membaca serta memahami derivasi etimologi perbendaharaan kata yang kadang mirip makna dan ejaanya.

#2. Tes Wacana. Soal dalam bentuk wacana ini akan menyajikan sebuah wacana yang terdiri dari beberapa paragraf. Dan pertanyaan akan berkutat pada isi wacana itu seputar fakta didalamnya dan kesimpulannya. Kadang tipe soal ini memakan waktu, sehingga perlu untuk mencari cara menjawab dengan cepat dan tepat. Tidak ada salahnya menggunakan trik skimming (membaca kilat) atau menjawab dengan membaca soal lebih dahulu. Karena kita memang tidak dituntut untuk paham wacana tersebut.

#3. Tes Analisis. Peserta diberikan sebuah kondisi atau keadaan suatu situasi dengan syarat yang ditentukan. Solusi tipe soal ini biasa aku cari dengan menggambarkan syarat situasi itu dalam beberapa kemungkinan susunan. Biasanya terdapat satu yang mendekati jawaban yang dusediakan dalam pilihan.

#4. Tes Deret Angka dan Huruf. Pernah lihat sederetan angka dan atau huruf lalu kita diminta menjawab tiga isian deret selanjutnya? Di STAN soal ini selalu muncul. Bagiku tipe soal ini meminta agar kita menemukan pola deret tesebut yang kadang tersimpan dalam tiap deret digit didepan atau setelahnya atau saling lompat. Uniknya kadang pola itu tersimpan tidak langsung di tiap deret itu secara langsung tapi di turunan kedua setelah satu pola ditemukan.

#5. Tes Matematika Sederhana. Sederhana disini dalam arti bahwa soal dengan jelas menuntut perhitungan cepat atas jawaban, hanya saja soal tipe ini bukan sekadar menjumlah atau mengali. Tapi bagaimana pecahan atau bilangan berkoma harus dihitung cepat untuk dapat diambil persentase misalnya. Sesekali terselip juga Logaritma Sederhana dalam beberapa soal tipe ini.

#6. Tes Matematika Logika. Inilah tes tersulit karena rangkaian logika digabung dengan kerumitan cerita tentang angka sehingga untuk bisa dijawab harus di analisis dahulu. Aku terbiasa memetakan petunjuk pada soal menjadi rangkaian informasi yang mungkin bisa divisualisasikan. Biasanya ini cukup membantu dalam memecahkan soal. Slh bntuk sederhana tipe soal ini seperti yang aku jadikan contoh soal diatas.

#7. Tes Pola Bangun Datar dan Bangun Ruang. Tipe tes semacam ini menuntut peserta untuk mampu menggambarkan beberapa bangun atau bangun ruang dan pola didalamnya yang membentuk aturan tertentu. Semakin cakap mengimajinasikannya maka makin mampu peserta menjawab. Aku sering melatih daya imajinasi untuk menghadapi tipe soal ini dengan banyak latihan soal.

Kabar baiknya adalah semua tipe tes tersebut adalah standar psikotes yang lazim diujikan di ujian masuk institusi swasta, pemerintah atau kampus kedinasan lain sehingga perbanyaklah porsi latihan agar terbiasa menyelesaikan soal- soal jenis demikian. Rekomendasi, bisa beli buku psikotes karangan Prof Yul Iskandar ada tiga seri disitu lengkap dibahas dan untuk variasi bisa beli buku kumpulan soal ujian masuk CPNS atau cari di internet dengan kata kunci 'kumpulan psikotes'.

Jangan Lupakan Bahasa Inggris

Satu lagi, dalam seleksi STAN peserta harus diuji Bahasa Inggris untuk pemahaman wacana, tata bahasa dan kosa kata. Jujur saja, menurut pendapat saya, tingkat kesulitan Bahasa Inggris ujian STAN setara dengan ujian TOEFL PBT. Sehingga bisa dimaklumi bila banyak peserta yang mengaku sulit di tahap ini.

Penting sekali untuk mengasah keahlian Bahasa Inggris dengan latihan soal TOEFL, makin sering makun bagus karena mempertajam naluri berbahasa dan memperkaya kosa kata, kedua hal ini sangat membantu saat ujian. Ujian Bahasa Inggris di STAN digabung dalam satu sesi tanpa jeda bersama TPA, hanya saja alokasinya dibedakan. Dari 150 menit waktu yang tersedia. Hampir 120 menit akan dialokasikan untuk TPA, baru Bahasa Inggris. Terkadang pengawas ujian tidak memberitahukan hal ini sehingga ada baiknya peserta bertanya sebelum ujian dimulai untuk menghindari kepanikan diakhir waktu.

Waspadai Sistem Minus, Nilai Mati dan Alokasi Waktu

Dalam ujian STAN diterapkan sistem minus dalam penilaian hasil ujian. Nilai 4 untuk jawaban benar, 0 bila tidak menjawab dan -1 untuk jawaban salah. Akumulasi nilai akhir adalah hasil perhitungan nilai tersebut. Sangat penting bagi peserta ujian untuk sebanyak mungkin menjawab dengan benar dalam ujian karena untuk masing- masing sesi TPA dan Bahasa Inggris peserta minimal harus memnjawab soal dengan benar 1/3 dari jumlah soal yang ada.

Hasil perhitungan nilai akhir disandingkan dengan syarat minimal 1/3 jawaban benar akan jadi penentu kelayakan peserta untuk 'diadu' secara nasional sebagai calon mahasiswa. Jika ada 5.000 peserta yang memenuhi syarat nilai akhir dan nilai mati, sementara diperlukan hanya 2.400 orang, maka 2.400 orang peringkat atas yang akan dinyatakan lulus dan berhak untuk daftar ulang sebagai mahasiswa.

Selain dua hal diatas perlu diketahui bahwa dengan jumlah soal sebanyak 180 buah alokasi waktu yang tersedia cuma 150 menit. Artinya, jika hendak dikerjakan semua, satu soal harus diselesaikan kurang dari satu menit. Saya sendiri tidak pernah menjawab semua soal ujian tapi semampunya saja. Selain pertimbangan waktu juga karena meminimalisir nilai minus yang khawatir justru menggerus perolehan nilai.

Sebagai contoh:

Dalam suatu ujian STAN, seorang peserta bernama Nathan berhasil menjawab 110 soal TPA dan 40 soal bahasa inggris. Dimana jawaban salah untuk TPA ada 10 dan ada 10 pula untuk Bahasa Inggris. Sehingga nilai Nathan adalah:

TPA : (110-10)X 4 + (10X -1) = 390 B. Inggris : (40-10)X 4 + (10 X -1) = 110 Total : 500.

Apakah Nathan lulus?

Belum tentu, karena harus dilihat dulu apakah untuk dua tes itu jumlah jawaban benarnya sdh diatas minimal 1/3 dari jumlah soal. TPA minimal 40 jawaban benar, Bhs. Inggris minimal 15 jawaban benar. Dan atas dual hal ini, Nathan jelas berhasil. Apa tentu Nathan lulus? Belum tentu karena masih harus dilihat berada dalam posisi berapa Nathan dalam pemeringkatan nasional. Jika masih dalam rentang yang dibutuhkan maka Nathan baru dapat dinyatakan lulus.

Santai, Jangan Tertekan.

Persiapan yang baik itu perlu, makin awal makin baik karena jelas makin matang. Untuk itulah menjelang ujian seharusnya sudah tidak perlu cemas lagi. Justru di saat tersebut sebaiknya diisi dengan kegiatan santai atau istirahat untuk rileks dan mengisi ulang energi supaya prima saat ujian. Tidur saja lebih awal semalam sebelum ujian. Bagi yang muslim ini malah memberi kesempatan untuk sholat tahajjud di sepertiga malam sebagai waktu yang mustajab.

Ada harapan gembira, menurut isu internal yang berkembang di lingkungan Kementrian Keuangan tahun ini STAN akan kembali menerima mahasiswa baru sekitar 5.000 orang. Sehingga bagi yang berminat dapat menpersiapkan diri jauh- jauh hari. STAN, bagaimanapun adalah sakah satu jalan untuk menjadi pribadi bermanfaat. Dan tiket masuk nya sederhana, cuma penguasaan yang baik tentang TPA, Bahasa Inggris serta Doa. Ohya, satu lagi, kadang faktor keberuntunfan juga ikut serta mengingat tipe soalnya pilihan ganda.

Selamat berjuang untuk kita semua, semoga berjumpa di kampus tercinta. Aamiin.

Read more »